Thursday, August 16, 2012

Bahaya Kawat Gigi


Kawat gigi atau yang lebih popular dengan sebutan behel, pada dasarnya bertujuan untuk merapikan susunan gigi yang tidak beraturan; terlalu maju, terlalu mundur  dan sebagainya. Kondisi gigi yang tidak beraturan membuat seseorang merasa kurang percaya diri dengan penampilannya. Sehingga selain alasan kesehatan, pemasangan kawat gigi juga disebabkan oleh faktor esetetika penampilan seseorang.
Namun faktor-faktor keputusan seseorang tersebut, akhir-akhir ini mengalami pergeseran. Terutama pada kalangan anak muda masa kini (kalau tidak mau disebut ababil  . Kawat gigi telah menjadi salah satu gaya hidup dan trend masa kini. Dengan kata lain behel juga menjadi tolak ukur gaul-nya  seseorang.
Trend pemasangan kawat gigi dan faktor ketidaktahuan telah membuat banyak orang khususnya anak muda untuk mempercayakan pemasangan kawat gigi pada sembarang orang. Bahkan karena alasan gaya hidup pula membuat sebagian orang memaksakan untuk memasang kawat gigi, meskipun sebenarnya tidak memerlukan. Diperparah dengan memasang kawat gigi secara asal-asalan, yang penting murah.
Pemasangan kawat gigi seharusnya dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodonti (drg. Sp.Ort). tetapi kenyataannya juga dilakukan oleh dokter gigi yang bukan spesialis orthodonti. Bahkan lebih parahnya lagi, tukang gigi palsu pun menambahkan jenis layanannya pada papan reklame; “Terima Pasang Kawat Gigi”.
Seorang orthodontist akan melakukan prosedur pemasangan kawat gigi sesuai dengan standarisasi kode etik mereka. Proses ini diawali dengan pemeriksaan secara visual (mata sang dokter), untuk menentukan apakah penggunaan kawat gigi atau bracket memang dibutuhkan atau tidak. Dan kalau memang dibutuhkan, jenis bracket apa yang sesuai dengan kondisi gigi pasien. Selanjutnya pasien melakukan foto rontgen gigi, untuk melihat struktur gigi dalam gusi. Selain itu, foto rontgen ini juga diperlukan untuk menemukan gigi yang tersembunyi atau gagal keluar. Keberadaan gigi tersembunyi tersebut bisa mrnyebabkan masalah yang berhubungan dengan kondisi kesehatan tubuh. Jika sang pasien memiliki gigi tersembunyi, orthodontist akan merujuk pada dokter gigi spesialis bedah mulut guna mengeluarkan gigi tersebut, setelah itu barulah pemasangan kawat gigi dilakukan sesuai dengan kondisi gigi si pasien.
selain itu, pasien juga harus difoto dengan kamera foto biasa, dengan beberapa pose; tampak depan, samping, dengan posisi diam, dan dengan posisi senyum lebar. Foto-foto gigi rahang bawah, atas, pada posisi menggigit sempurna. Foto-foto ini digunakan untuk dokumentasi dan pembanding ketika proses perawatan sudah selesai. Selain itu juga digunakan untuk referensi, melihat apakah ada kesalahan struktural  pada bentuk wajah yang diakibatkan oleh susunan gigi pasien.
Salah satu hasil yang harus tercapai dari perawatan orthodonti adalah membuat gigi bisa menjalankan fungsinya secara baik dan benar. Jika pada saat anda memasang kawat gigi tanpa adanya sesi foto seperti di atas, bisa dipastikan bahwa itu bukanlah orthodontist. Dan hasilnya kemungkinan sangat jauh dari harapan anda. Jadi sebaiknya dipikirkan lagi, jika tujuan anda memasang kawat gigi hanya untuk gaya-gayaan mengikuti trend, bisa-bisa anda menjadi korban malpraktek dan memperburuk kondisi gigi anda.

Kejang demam pada anak


Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).
Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
Kejang demam pada anak merupakan suatu peristiwa yang menakutkan pada kebanyakan orangtua karena kejadiannya yang mendadak dan kebanyakan orangtua tidak tahu harus berbuat apa. Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >380C) yang disebabkan oleh suatu proses diluar otak. Tidak jarang orangtua khawatir jika anaknya panas, apakah nanti akan kejang atau tidak. Dari penelitian, kejadian kejang demam sendiri tidaklah terlalu besar yaitu sekitar 2-4 %, artinya dari 100 anak dengan demam ada sekitar 2-4 yang mengalami kejang. Kejang demam terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan terbanyak terjadi pada usia 17-23 bulan.
Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat orangtua tidak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah. Kesalahan orangtua adalah kurang tepat dalam menangani kejang demam itu sendiri yang kemungkinan terbesar adalah disebabkan karena kurang pengetahuan orangtua dalam menanganinya.

Askep Cedera Kepala


Dalam ilmu kesehatan, Cedera kepala diartikan sebagai suatu kondisi adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. Sebelum masuk pada Askep Cedera Kepala atau Otak, perlu diketahui pengertian otak, fungsi otak, dan macam-macam gangguan kesehatan otak yang disebabkan oleh cedera otak. Karena pemahaman mengenai cedera kepala akan mempermudah mahasiswa STIKES khususnya keperawatan dalam rangka menyusun makalah mengenai Asuhan Keperawatan Cedera Kepala.
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.
Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output.
Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.
Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua :
Cedera kepala primer
Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi – decelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan.
Pada cedera primer dapat terjadi :
  1. Geger kepala ringan
  2. Memar otak
  3. Laserasi
Cedera kepala sekunder
Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :
  1. Hipotensi sistemik
  2. Hipoksia
  3. Hiperkapnea
  4. Udema otak
  5. Komplikasi pernapasan
  6. infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain
PERDARAHAN YANG SERING DITEMUKAN
Epidural Hematoma
Terdapat pengumpulan darah di antara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri  karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1-2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.
Gejala-gejala yang terjadi :
Penurunan tingkat kesadaran, Nyeri kepala, Muntah, Hemiparesis, Dilatasi pupil ipsilateral, Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irreguler, Penurunan nadi, Peningkatan suhu
Subdural Hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
Tanda-tanda dan gejalanya adalah : nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan udem pupil
Perdarahan intracerebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri; kapiler; vena.
Tanda dan gejalanya :
Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegia kontra lateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital
Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah  dan permukaan otak, hampir selalu ada pad cedera kepala yang hebat.
Tanda dan gejala : Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk